Welcome

WELCOME TO MY BLOG

Senin, 06 September 2010

Menerobos Lampu Merah

By : Kak Terry

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu
masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas
kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah
biasanya menyala cukup lama.

Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu
berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga
ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang
garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang,
haruskah ia berhenti atau terus saja.

"Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan
tangan memintanya berhenti.

Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat
dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi
itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati
Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka
kedua lengannya.

"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jack." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang
agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang
tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala
sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering
memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.

"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak
melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning
masih enyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit
bisa memperlancar keadaan.
"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong
keluarkan SIMmu."

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam
kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob
menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat
kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi
wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela
itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk
memasukkan surat tilang.Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di
sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata
SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia
tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan
atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang
berisi tulisan tangan Bob.

"Dear Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai
seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal
tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu
bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya
lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada.
Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan
berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami
peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi
itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan
aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.

Salam,
Bob

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan
mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya
entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi
perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap
kesalahannya dimaafkan.

... Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan
pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih
dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar